SEPI ING PAMRIH ~ Katebe Blog's

Thursday, November 2, 2017

SEPI ING PAMRIH



"SEPI ING PAMRIH"

Kalimat di atas sudah banyak dikenal secara luas. 
Makna harafiahnya adalah “memberi tanpa mengharapkan imbalan”. 
Dalam pembahasan kali ini saya ingin mempermasalahkan lebih dalam makna “sepi ing pamrih” ini.

Pertanyaan pertama saya adalah, apakah “sepi ing pamrih’ itu dalam kehidupan nyata memang ada? 
Orang Islam sering mengatakan bahwa apa yang dia lakukan hanyalah untuk Allah, tidak lain dari itu, Lillahitaallah. 
Kalau apa yang dilakukan adalah untuk Allah, tentu di berharap imbalan juga, misalnya mendapat berkah atau berharap mendapat surga nantinya. 
Apakah hal itu bukan pamrih?

Ada juga orang yang mengatakan bahwa apa yang dia lakukan itu karena dia mau melakukan, karena kemauan dia semata, tidak ada yang mendorong atau memaksa dia melakukan. 
Lho, bagaimana kalau yang dia lakukan itu merugikan orang lain, apa akan tetap dia lakukan?

Sebagaimana pernah saya bahas sebelumnya, manusia itu dilengkapi dengan kekuatan yang bernama ‘rasa’ atau ‘empati’ yang merupakan produk dari nurani. 
Orang awam menyebutnya ‘suara hati’. 
Hanya manusia yang memiliki ‘nurani’. 
Makhluk lain tidak memiliki.

Pada dasarnya (secara alamiah) manusia berkomunikasi dengan dunia luar melalui nuraninya. 
Yang saya maksud dengan dunia luar adalah dengan sesama manusia, dengan hewan, tetumbuhan dan dengan alam pada umumnya. 
Dalam berkomunikasi dengan Tuhan, manusia seharusnya juga menggunakan nuraninya.

Setiap kali kita berkomunikasi dengan dunia luar, maka akan timbul perasaan tertentu yang disebut empati. 
Rasa atau empati tadi merupakan respons kita terhadap sinyal-sinyal dari dunia luar. 
Rasa atau empati merupakan energi positif yang sangat kuat dan cerdas. 
Sebagai energi positif, empati pada dasarnya merupakan “rasa kasih sayang”.

Setiap kali “rasa kasih sayang” muncul dalam diri kita maka timbul dorongan dalam diri kita untuk memberi atau melakukan suatu kebaikan bagi pihak lain yang mengirim sinyal kepada kita. 
Pihak lain itu bisa sesama manusia, hewan, tetumbuhan dan sebagainya. 
Begitulah mekanisme alamiah manusia.

Saya ulangi mekanismenya. 
Manusia dilengkapi dengan sistem komunikasi bernama ‘nurani’.  
Nurani menghasilkan energi bernama ‘empati’ atau ‘rasa kasih sayang’ sebagai respons terhadap sinyal yang datang dari dari luar. 
Empati merupakan energi positif yang tidak dapat menggerakkan otot-otot kita untuk berbuat sesuatu.

Tetapi empati dapat berubah menjadi energi yang dikirim ke otak dan disebut “niat” (intention). 
Setelah mendapatkan sinyal berupa “niat’ tadi maka otak mulai bekerja. 
Kerjanya otak itu didasarkan pada data dan informasi yang sudah tersimpan di dalamnya.

Setelah menerima sinyal berupa “niat”, maka otak mulai membandingkan niat dengan data dan informasi yang ada serta melakukan analisis. 
Setelah melakukan analisis, maka otak merumuskan apa yang akan diputuskan. 
Setelah ada keputusan maka otak memerintahkan otot-otot untuk bergerak melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan yang ditentukan oleh “niat”.

Kembali ke masalah “sepi ing pamrih”. 
Jadi “sepi ing pamrih” dapat terjadi kalau kita berbuat sesuatu atas dasar proses atau mekanisme “sinyal luar - nurani – empati – niat – otak”.  
Tentu kita tidak berharap apapun dari apa yang kita perbuat atau kita lakukan karena semua itu berjalan secara alamiah dan otomatis saja. 

Begitulah makna dari “sepi ing pamrih”.  
Sebagai imbalan, secara alamiah dan otomatis kita merasakan sesuatu yang nikmat tetapi tidak dapat kita gambarkan dengan kata-kata. Itulah rasa bahagia.

Tetapi perlu anda ketahui bahwa mekanisme “sinyal luar - nurani – empati – niat –otak” tidak selamaya berfungsi dengan benar.

Dari pengalaman tertentu dalam hidupnya, maka orang tercekam oleh rasa takut dan ketegangan. 
Rasa takut ini melemahkan respons nurani dalam menerima sinyal dari luar. 
Dengan lain perkataan produk nurani berupa “empati” atau “rasa kasih sayang’ juga melemah. 
Kalau rasa takut tadi mencekam lebuh kuat, maka produksi nurani berupa ‘empati’ atau ‘rasa kasih sayang’ akan terhenti.

Dalam hal produksi “empati’ terhenti karena nurani melemah, maka sinyal dari luar akan langsung diterima oleh otak. 
Jadi otak memproses sinyal dari luar tanpa diperintah oleh nurani. 
Hasilnya adalah “pemikiran” dan langsung disalurkan sebagai perinah terhadap otot-otot untuk bertindak.

Tanpa nurani bekerja secara normal, maka perilaku manusia hanya dikendalikan oleh “pikiran”dan “naluri” (instinct). 
Dari dalam dirinya tidak ada “rasa kasih sayang”. 
Yang ada hanya pemikiran yang dikendalikan oleh “naluri bertahan hidup”.

Hewan merupakan makhluk yang hidupnya hanya dikendalikan oleh “naluri bertahan hidup”. 
Hewan tidak diperlengkapi dengan nurani maupun pikiran. 
 Kalau nurani manusia tidak berfungsi maka manusia akan lebih buruk dari hewan karena hidupnya dikendalikan oleh kombinasi “pikiran + naluri bertahan hidup”.

Perang, korupsi, perampokan, pembunuhan, perkosaan dan pelanggaran hak hidup orang lain pada dasarnya adalah karena manusia tidak dikendalikan oleh nurani tetapi oleh kombinasi kekuatan “pikiran dan naluri bertahan hidup”.

Kesimpulannya, “sepi yang pamrih” memberi imbalan berupa kebahagian yang hakiki.

Sudah Paham kan ???
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger


EmoticonEmoticon