Hanya Dengan Berguna Kita Akan Bahagia ~ Katebe Blog's

Thursday, November 2, 2017

Hanya Dengan Berguna Kita Akan Bahagia


"JADIKAN DIRIMU BERGUNA"

Bagi banyak orang nasihat di atas terasa klise dan membosankan.  
Orang akan mengatakan, apakah dengan bekerja di perusahaan besar sebagai seorang menager tidak berarti dirinya berguna? 
Apakah sebagai anggota DPR yang terhormat itu diri saya kurang berguna? 
Dengan bekerja keras menghidupi keluarga juga dianggap sebagai orang yang berguna.

Di jaman dahulu, doa orang tua kepada anaknya menyatakan: 'Semoga di masa depan anakku dapat menjadi orang yang berguna'. Pada waktu negeri ini mengalami “kemajuan” maka doa itu berubah: 'semoga anakku menjadi orang yang sukses dalam arti kaya dan berkuasa serta terkenal.'
Mendoakan anak menjadi orang berguna merupakan nilai hidup budaya ketimuran (bukan hanya Indonesia). 
Doa kepada anak agar menjadi orang sukses dalam arti kaya, berkuasa atau terkenal merupakan nilai yang datang dari barat.
Kehidupan bangsa-bangsa Timur (Asia) lebih mengetengahkan nilai-nilai spiritual sedang bangsa-bangsa Barat (Eropa, Amerika) lebih mementingkan nilai-nilai rasional. 
Orang Barat menganut keyakinan bahwa kekuatan manusia terletak pada rasio atau akal, sedang orang Timur menyakini bahwa nilai spiritual merupakan sumber kekuatan manusia.
Dengan mengemukakan kata spiritual yang saya maksud adalah sesuatu kekuatan yang ada pada diri manusia dan bukan berarti agama. 
Kekuatan manusia pada dasarnya ada tiga, yaitu kekuatan spiritual, rasional dan naluriah. 
Tiga kekuatan tersebut merupakan anugerah Sang Pencipta kepada setiap manusia dan hanya diberikan kepada manusia. Hewan hanya mendapat anugerah kekuatan naluriah.
Kehidupan hewan dapat dikatakan telah diprogrammelalui naluri.  
Kekuatan naluriah pada dasarnya adalah kekuatan yang paling primitif karena hanya mempunyai satu fungsi, yakni untuk bertahan hidup (survival). 
Hewan bertahan hidup dengan memangsa hewan lain yang telah ditentukan. 
Untuk bertahan hidup, hewan berkembang biak dengan cara yang telah ditentukan, ada yang bertelur dan ada yang beranak. 

Manusia juga mempunyai naluri bertahan hidup sama dengan hewan. 
Manusia bertahan hidup dengan makan dan berkembang biak, namun manusia dapat menentukan sendiri jenis makanan yang diinginkan dengan menggunakan akalnya. 
Manusia juga berkembang biak, tetapi manusia dapat menentukan apa yang baik bagi dirinya dalam berkembang biak.
Kekuatan manusia kedua adalah akal atau pikiran. 
Peran pikiran adalah untuk membandingkan, menganalisis, menjabarkan, menetapkan atau memutuskan. 
Untuk menjalankan peran tersebut diperlukan data dan informasi yang disimpan dalam otak. 
Data dan informasi diperoleh manusia dari luar dirinya melalui pancaindera, yaitu mata (penglihatan), telinga (pendengaran), hidung (penciuman), lidah (rasa) dan kulit (rabaan / sentuhan)

Kekuatan ketiga yang ada pada diri manusia adalah kekuatan spiritual atau juga sering dinamakan kekuatan nurani. 
Kekuatan nurani bersifat statis, sedang kekuatan pikiran bersifat kinetis atau dinamis. 
Kekuatan pikiran dinamakan dinamis karena dapat menggerakkan organ-organ badan, misalnya menggerakkan tangan atau kaki. 
Nurani tidak dapat berbuat demikian, tetapi nurani dapat menggerakkan pikiran.
Antara kekuatan nurani dengan kekuatan pikiran ada hubungan herarkhi. 
Nurani bertindak sebagai ‘komandan’ yang memerintah pikiran untuk melakukan perannya (membandingkan, menganalisis, menjabarkan, menetapkan atau memutuskan) dan kemudian menggerakkan organ tubuh (melakukan tindakan atau action).
Dalam kehidupan sehari-hari manusia berhadapan dengan berbagai peristiwa dan keadaan yang ada di sekitarnya. 
Melalui pancaindera, peristiwa dan keadaan sekitar tersebut dikirim sebagai sinyal ke nurani dan juga pikiran hampir secara bersamaan. 
Saya katakan hampir bersamaan sebab sebenarnya sinyal dari pancaindera tersebut diterima lebih dulu oleh nurani dari pada oleh pikiran.
Setelah menerima sinyal dari luar, nurani memberi perintah pada pikiran untuk mencerna dan kemudian bertindak. 
Jalur prosedur ini merupakan jalur baku secara alamiah. 
Tetapi kondisi kehidupan di alam modern dapat mengubah jalur alamiah ini dengan menciptakan jalur pendek atau short circuit tanpa melalui nurani. 
Jadi sinyal diterima oleh pikiran dan langsung bertindak.
Mengapa dapat terjadi short circuit ? 
Pikiran orang dapat ‘diasah’, artinya dapat dijelali dengan banyak data dan banyak informasi serta lebih sering digunakan untuk membedakan, menganalisis, memutuskan dan sebagainya. 
Jadi pikiran dapat berperan dengan lebih cepat dan lebih efisien. 
Akibatnya peran atau fungsi nurani makin lama makin melemah dan akhirnya lumpuh. 
Setelah nurani lumpuh, maka kekuatan manusia didominasi oleh pikiran dan naluri.
Orang sering pemahami kekuatan spiritual sebagai kekuatan religious atau agama. 
Nurani merupakan kekuatan yang melekat (built in) dalam diri manusia. 
Agama dibutuhkan agar kekuatan nurani dalam diri manusia tidak terkikis dan menjadi lumpuh. Dengan lain perkataan, agama dibutuhkan untuk menjaga kekuatan nurani.
Bukan itu saja, agama juga dibutuhkan untuk mengatur atau mengelola pikiran. 
Agama menawarkan keyakinan (keimanan), moralitas, hukum dan peraturan serta prosedur yang berguna sebagai acuan bagi pikiran dalam menjalankan perannya (membandingkan, menganalisis, menjabarkan, menetapkan atau memutuskan).
Dengan lain perkataan dapat dikatakan bahwa agama berperan untuk mengendalikan pikiran sehingga tidak menyebabkan lumpuhnya kekuatan nurani oleh dominasi pikiran. 
Kalau nurani lumpuh maka orang akan dikendalikan oleh kombinasi dua kekuatan, yaitu naluri (instinct) dan pikiran. 
Manusia yang hidupnya dikendalikan oleh kombinasi dua kekuatan ini akan berlaku lebih buruk dari pada hewan.
Hewan hidupnya diprogram menurut naluri tertentu tanpa bisa keluar dari ketentuan tersebut. Manusia yang hidup dengan naluri bertahan hidup dapat berbuat apa saja karena didukung oleh kekuatan pikiran. 
Kalau singa secara naluriah hanya makan daging, maka manusia yang dikendalikan oleh naluri dan pikiran akan memakan apa saja dengan cara apa saja dan kapan saja dia mau. 
Itulah yang disebut kerakusan yang dikendalikan oleh rasa takut yang bersumber dari naluri bertahan hidup.
Sekarang kita kembali ke nasihat “buat dirimu berguna”
Kekuatan nurani atau kekuatan spritual selalu bersifat positif sesuai dengan misi hidup manusia di dunia. 
Misi hidup manusia ditentukan oleh keyakinan seseorang. 
Keyakinan misi hidup ini pada umumnya bersumber dari agama.
Meskipun dalam setiap agama terdapat interpretasi atau pemahaman yang berbeda-beda, pada umumnya terdapat kesamaan prinsip bahwa secara alamiah manusia harus hidup dengan kasih sayang, dengan empati, dengan saling memberi atau saling tolong menolong. 
Dengan lain perkataan, manusia hidup untuk memberi.
Karena memberi merupakan misi hidup manusia, maka dengan memberi manusia akan berbahagia. 
Atau dapat dikatakan bahwa kebahagiaan hanya dapat diperoleh dengan memberi. 
Yang membuat bahagia itu bukan pemberiannya atau tindakan memberi itu. 
Yang penting adalah apakah dari dalam diri kita ada dorongan untuk memberi. 
Dorongan tersebut adalah kekuatan nurani yang dapat kita rasakan. 
Kalau dorongan kekuatan nurani ini kita laksanakan berupa tindakan (action) maka kita akan bahagia.
Dengan singkat dapat dikatakan bahwa kalau sinyal dari luar (melalui pancaindera) diterima oleh nurani dan diteruskan ke pikiran serta diwujudkan dalam tindakan maka kita akan bahagia. 
Dengan lain perkataan kalau mau bahagia jagalah jalur hirarchi alamiah dari nurari ke ke pikiran lalu wujudkan dalam tindakan.
Teruslah berlatih menggunakan agama sebagai acuan agar pikiran melakukan tugasnya tanpa meninggalkan peran nurani. 
Perkaya dirimu dengan berbagai ilmu agar mempunyai banyak hal untuk diberikan. 
Tetapi tetap jaga pikiran dengan agama.
Nah, jadi tidak mudah untuk menjadikan diri kita berguna, tetapi hanya dengan berguna kita akan bahagia.
Next
This Is The Current Newest Page
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger


EmoticonEmoticon