Melu Handarbeni ~ Katebe Blog's

Wednesday, September 27, 2017

Melu Handarbeni


Kamu Memang Asing Mendengarkan Kalimat 'Melu Handarbeni' ..
Lalu Apasih Artinya ??

Melu handarbeni artinya ikut memiliki.
Melu handarbeni itu wujud dari sikap mental. 
Dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan istilah yang lebih jelas yaitu sense of belonging. 
Jadi lengkapnya dalam bahasa Jawa adalah rasa melu handarbeni..

Rasa melu handarbeni merupakan persyaratan dalam kebersamaan. 
Lingkup melu handarbeni terletak pada kegiatan memelihara, memperbaiki, memajukan dan menjaga, milik bersama. 
Contohnya adalah negara. 
Semua warganegara harus memiliki rasa melu handarbeni, jangan mau enaknya sendiri tetapi tidak mau memelihara, memperbaiki, memajukan dan menjaga.

Dulu Presiden Kennedy dari Amerika Serikat pernah mengatakan: 
“Jangan bertanya apa yang kamu dapat dari negara, tetapi bertanyalah apa yang dapat kamu berikan kepada negara”
Di Jakarta dan kota-kota lain banyak sarana umum, bus, toilet, tilpon umum, kereta api dan dinding tembok rusak dan kotor oleh tangan-tangan jahil yang tidak punya rasa melu handarbeni..

Seorang karyawan perusahaan juga harus punya rasa melu handarbeni. 
Semua karyawan, dari mulai tukang sapu sampai pimpinan paling atas harus memelihara, memperbaiki, memajukan dan menjaga nama baik perusahaan serta asset perusahaan. 
Perusahaan komputer IMB mempunyai semboyan verybody sell, yang artinya semua orang harus menjual.  
Tukang sapu harus menyapu lantai dengan benar agar para pelanggan nyaman. 
Demikian juga para kasir dan petugas pelayanan yang lain.

Belakangan menjadi kebiasaan bagi para demonstran merusak kantor pemerintah dan fasilitas umum, padahal semua itu dibangun dari uang rakyat juga. 
Timbul pertanyaan, mengapa mereka berbuat seperti itu?

Untuk menjawab pertanyaan di atas diperlukan cerita panjang dalam mengelola negara. 
Intinya adalah selama ini para pengelola negara memberi kesan bahwa negara ini milik mereka sendiri. 
Rakyat dianggap hanya sebagai sasaran (objek) untuk diurusi tetapi tidak perlu ikut mengurusi. 
Dengan lain perkataan, partisipsi rakyat dalam pembangunan sangat minim. 
Akibatnya rakyat merasa tidak ikut memiliki negara ini.

Pada tingkat desa juga terjadi hal yang sama. 
Jiwa “gotong royong” sudah makin lemah. 
Yang ada hanyalah kerja bakti, meskipun masih dinamakan gorong royong juga. 
Gotong royong di desa tidak didasari oleh rasa melu handarbeni lagi, tetapi karena terpaksa atau dipaksa oleh RT, RW atau lurah.  
Rumus yang berlaku adalah “asu gedhe menang kerahe” (anjing besarlah yang memenangkan perkelaian) yang artinya siapa yang bersuara keras itulah yang berkuasa.

Rasa melu handarbeni merupakan sikap yang didasari oleh keperdulian terhadap orang lain, oleh rasa tanggung jawab terhadap kepentingan orang banyak. 
Bumi kita ini mengandung kepentingan orang banyak, bukan saja kepentingan sekarang, tetapi juga kepentingan generasi mendatang. 
Oleh kerena itu sumber daya alam dan lingkungan alam tidak boleh dirusak demi kepentingan satu pihak dan kepentingan sekarang saja.

Maka dari itu , dari sekarang mulailah sikap 'Melu Handarbeni' agar semuanya berjalan lancar sesuai mestinya ..
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger


EmoticonEmoticon