Katebe Blog's
[recent]

Thursday, November 2, 2017

Hanya Dengan Berguna Kita Akan Bahagia


"JADIKAN DIRIMU BERGUNA"

Bagi banyak orang nasihat di atas terasa klise dan membosankan.  
Orang akan mengatakan, apakah dengan bekerja di perusahaan besar sebagai seorang menager tidak berarti dirinya berguna? 
Apakah sebagai anggota DPR yang terhormat itu diri saya kurang berguna? 
Dengan bekerja keras menghidupi keluarga juga dianggap sebagai orang yang berguna.

Di jaman dahulu, doa orang tua kepada anaknya menyatakan: 'Semoga di masa depan anakku dapat menjadi orang yang berguna'. Pada waktu negeri ini mengalami “kemajuan” maka doa itu berubah: 'semoga anakku menjadi orang yang sukses dalam arti kaya dan berkuasa serta terkenal.'
Mendoakan anak menjadi orang berguna merupakan nilai hidup budaya ketimuran (bukan hanya Indonesia). 
Doa kepada anak agar menjadi orang sukses dalam arti kaya, berkuasa atau terkenal merupakan nilai yang datang dari barat.
Kehidupan bangsa-bangsa Timur (Asia) lebih mengetengahkan nilai-nilai spiritual sedang bangsa-bangsa Barat (Eropa, Amerika) lebih mementingkan nilai-nilai rasional. 
Orang Barat menganut keyakinan bahwa kekuatan manusia terletak pada rasio atau akal, sedang orang Timur menyakini bahwa nilai spiritual merupakan sumber kekuatan manusia.
Dengan mengemukakan kata spiritual yang saya maksud adalah sesuatu kekuatan yang ada pada diri manusia dan bukan berarti agama. 
Kekuatan manusia pada dasarnya ada tiga, yaitu kekuatan spiritual, rasional dan naluriah. 
Tiga kekuatan tersebut merupakan anugerah Sang Pencipta kepada setiap manusia dan hanya diberikan kepada manusia. Hewan hanya mendapat anugerah kekuatan naluriah.
Kehidupan hewan dapat dikatakan telah diprogrammelalui naluri.  
Kekuatan naluriah pada dasarnya adalah kekuatan yang paling primitif karena hanya mempunyai satu fungsi, yakni untuk bertahan hidup (survival). 
Hewan bertahan hidup dengan memangsa hewan lain yang telah ditentukan. 
Untuk bertahan hidup, hewan berkembang biak dengan cara yang telah ditentukan, ada yang bertelur dan ada yang beranak. 

Manusia juga mempunyai naluri bertahan hidup sama dengan hewan. 
Manusia bertahan hidup dengan makan dan berkembang biak, namun manusia dapat menentukan sendiri jenis makanan yang diinginkan dengan menggunakan akalnya. 
Manusia juga berkembang biak, tetapi manusia dapat menentukan apa yang baik bagi dirinya dalam berkembang biak.
Kekuatan manusia kedua adalah akal atau pikiran. 
Peran pikiran adalah untuk membandingkan, menganalisis, menjabarkan, menetapkan atau memutuskan. 
Untuk menjalankan peran tersebut diperlukan data dan informasi yang disimpan dalam otak. 
Data dan informasi diperoleh manusia dari luar dirinya melalui pancaindera, yaitu mata (penglihatan), telinga (pendengaran), hidung (penciuman), lidah (rasa) dan kulit (rabaan / sentuhan)

Kekuatan ketiga yang ada pada diri manusia adalah kekuatan spiritual atau juga sering dinamakan kekuatan nurani. 
Kekuatan nurani bersifat statis, sedang kekuatan pikiran bersifat kinetis atau dinamis. 
Kekuatan pikiran dinamakan dinamis karena dapat menggerakkan organ-organ badan, misalnya menggerakkan tangan atau kaki. 
Nurani tidak dapat berbuat demikian, tetapi nurani dapat menggerakkan pikiran.
Antara kekuatan nurani dengan kekuatan pikiran ada hubungan herarkhi. 
Nurani bertindak sebagai ‘komandan’ yang memerintah pikiran untuk melakukan perannya (membandingkan, menganalisis, menjabarkan, menetapkan atau memutuskan) dan kemudian menggerakkan organ tubuh (melakukan tindakan atau action).
Dalam kehidupan sehari-hari manusia berhadapan dengan berbagai peristiwa dan keadaan yang ada di sekitarnya. 
Melalui pancaindera, peristiwa dan keadaan sekitar tersebut dikirim sebagai sinyal ke nurani dan juga pikiran hampir secara bersamaan. 
Saya katakan hampir bersamaan sebab sebenarnya sinyal dari pancaindera tersebut diterima lebih dulu oleh nurani dari pada oleh pikiran.
Setelah menerima sinyal dari luar, nurani memberi perintah pada pikiran untuk mencerna dan kemudian bertindak. 
Jalur prosedur ini merupakan jalur baku secara alamiah. 
Tetapi kondisi kehidupan di alam modern dapat mengubah jalur alamiah ini dengan menciptakan jalur pendek atau short circuit tanpa melalui nurani. 
Jadi sinyal diterima oleh pikiran dan langsung bertindak.
Mengapa dapat terjadi short circuit ? 
Pikiran orang dapat ‘diasah’, artinya dapat dijelali dengan banyak data dan banyak informasi serta lebih sering digunakan untuk membedakan, menganalisis, memutuskan dan sebagainya. 
Jadi pikiran dapat berperan dengan lebih cepat dan lebih efisien. 
Akibatnya peran atau fungsi nurani makin lama makin melemah dan akhirnya lumpuh. 
Setelah nurani lumpuh, maka kekuatan manusia didominasi oleh pikiran dan naluri.
Orang sering pemahami kekuatan spiritual sebagai kekuatan religious atau agama. 
Nurani merupakan kekuatan yang melekat (built in) dalam diri manusia. 
Agama dibutuhkan agar kekuatan nurani dalam diri manusia tidak terkikis dan menjadi lumpuh. Dengan lain perkataan, agama dibutuhkan untuk menjaga kekuatan nurani.
Bukan itu saja, agama juga dibutuhkan untuk mengatur atau mengelola pikiran. 
Agama menawarkan keyakinan (keimanan), moralitas, hukum dan peraturan serta prosedur yang berguna sebagai acuan bagi pikiran dalam menjalankan perannya (membandingkan, menganalisis, menjabarkan, menetapkan atau memutuskan).
Dengan lain perkataan dapat dikatakan bahwa agama berperan untuk mengendalikan pikiran sehingga tidak menyebabkan lumpuhnya kekuatan nurani oleh dominasi pikiran. 
Kalau nurani lumpuh maka orang akan dikendalikan oleh kombinasi dua kekuatan, yaitu naluri (instinct) dan pikiran. 
Manusia yang hidupnya dikendalikan oleh kombinasi dua kekuatan ini akan berlaku lebih buruk dari pada hewan.
Hewan hidupnya diprogram menurut naluri tertentu tanpa bisa keluar dari ketentuan tersebut. Manusia yang hidup dengan naluri bertahan hidup dapat berbuat apa saja karena didukung oleh kekuatan pikiran. 
Kalau singa secara naluriah hanya makan daging, maka manusia yang dikendalikan oleh naluri dan pikiran akan memakan apa saja dengan cara apa saja dan kapan saja dia mau. 
Itulah yang disebut kerakusan yang dikendalikan oleh rasa takut yang bersumber dari naluri bertahan hidup.
Sekarang kita kembali ke nasihat “buat dirimu berguna”
Kekuatan nurani atau kekuatan spritual selalu bersifat positif sesuai dengan misi hidup manusia di dunia. 
Misi hidup manusia ditentukan oleh keyakinan seseorang. 
Keyakinan misi hidup ini pada umumnya bersumber dari agama.
Meskipun dalam setiap agama terdapat interpretasi atau pemahaman yang berbeda-beda, pada umumnya terdapat kesamaan prinsip bahwa secara alamiah manusia harus hidup dengan kasih sayang, dengan empati, dengan saling memberi atau saling tolong menolong. 
Dengan lain perkataan, manusia hidup untuk memberi.
Karena memberi merupakan misi hidup manusia, maka dengan memberi manusia akan berbahagia. 
Atau dapat dikatakan bahwa kebahagiaan hanya dapat diperoleh dengan memberi. 
Yang membuat bahagia itu bukan pemberiannya atau tindakan memberi itu. 
Yang penting adalah apakah dari dalam diri kita ada dorongan untuk memberi. 
Dorongan tersebut adalah kekuatan nurani yang dapat kita rasakan. 
Kalau dorongan kekuatan nurani ini kita laksanakan berupa tindakan (action) maka kita akan bahagia.
Dengan singkat dapat dikatakan bahwa kalau sinyal dari luar (melalui pancaindera) diterima oleh nurani dan diteruskan ke pikiran serta diwujudkan dalam tindakan maka kita akan bahagia. 
Dengan lain perkataan kalau mau bahagia jagalah jalur hirarchi alamiah dari nurari ke ke pikiran lalu wujudkan dalam tindakan.
Teruslah berlatih menggunakan agama sebagai acuan agar pikiran melakukan tugasnya tanpa meninggalkan peran nurani. 
Perkaya dirimu dengan berbagai ilmu agar mempunyai banyak hal untuk diberikan. 
Tetapi tetap jaga pikiran dengan agama.
Nah, jadi tidak mudah untuk menjadikan diri kita berguna, tetapi hanya dengan berguna kita akan bahagia.

MIKUL DUWUR MENDEM JERO


"MIKUL DUWUR MENDEM JERO"

Mikul artinya memikul, yakni membawa diatas bahu. 
Duwur artinya tinggi, 
Mendem artinya menanam. 
Jero artinya dalam. 
Dengan demikian "mikul duwur mendem jero" arti mudahnya adalah ada sesuatu yang harus dijunjung tinggi dan ada yang harus ditanam dalam-dalam. 
Masalahnya apa yang harus dijunjung tinggi dan apa yang harus ditanam dalam-dalam dan dalam keadaan bagaimana hal itu dilakukan.
Ajaran ini banyak disalahgunakan dengan tujuan untuk tidak membuka keaiban di kalangan tertentu. 
Sikap ini sering terungkap dalam kata-kata yang secara salah di katakan: "Sudahlah jangan dibicarakan / jangan dipublikasikan atau jangan lagi diurusi karena itu akan membuka aib sendiri"
Sikap seperti itu ada yang menganggap sebagai sikap yang bijaksana.
Di kalangan kekuasaan, terutama kekuasaan politik, pensalahgunaan ajaran 'mikul duwur mendem jero' ini banyak dipraktekkan. 
Demi nama baik partai politik, maka korupsi dari para politisi sering ditutupi. demikian juga di kalangan militer (bukan di Indonesia saja), kalangan kepolisian, kalangan agama, dan sebagainya.
Bangsa kita terkenal dengan sikapnya yang 'forget and forgive' (lupakan dan maafkan). 
Suatu kesalahan dipendem dalam-dalam demi harmoni yang harus diutamakan. 
Masyarakat yang masih paternalistik dan fodalistik sering mendem keaiban atau kesalahan demi kehormatan atasan. 
Rasanya tidak layak kalau seorang menteri harus diperiksa KPK karena diduga korupsi.
Timbul pertanyaan, dalam keadaan bagaimana ajaran 'mikul duwur mendem jero' ini perlu diterapkan?

Dalam era keterbukaan dan era kekuasaan hukum, rasanya tidak ada kesalahan yang harus dipendem jero demi apapun. 
Skandal sex presiden Clinton diungkap ramai-ramai demi keadilan meskipun kemudian secara hukum dia tidak disalahkan. 
Kita tidak pernah tahu bagaimana perasanaan isteri Bill Clinton, yaitu Hallary Clinton. 
tetapi ada kenyataan yang ktia ketahui, Hillary Clinton sampai sekarang tetap setia kepada suaminya dan tidak pernah mencaci maki suaminya yang mempunyai affair dengan gadis muda di kantor presiden.
Nah itu dia makna sesungguhnya dari nasihat 'mikul duwur mendem jero'
Orang Inggris bersikap 'mikul duwur mendem jero' terhadap negerinya dengan slogan "right or wrong my country"
Meskipun negara saya salah, tetapi saya tetap setia sebagai warga negera dan akan saya bela mati-matian.
Makna ajaran 'mikul duwur mendem jero' dalam konteks globalisasi adalah patriotisme. 
Seorang patriot tetap cinta pada negara dan bangsanya. 
Bagaimana dengan bangsa kita? 
Kenyataan menunjukkan kita kekurangan patriot dan bahkan banyak orang yang 'menjual tanah air' dalam investasi, dengan lebih setia kepada korporasi dari pada kepada bangsa. 
Senang menjelek-jelekan bangsa dan negara demi kepentingan sendiri.
Mikul duwur mendem jero adalah ajaran untuk patriot.

SEPI ING PAMRIH



"SEPI ING PAMRIH"

Kalimat di atas sudah banyak dikenal secara luas. 
Makna harafiahnya adalah “memberi tanpa mengharapkan imbalan”. 
Dalam pembahasan kali ini saya ingin mempermasalahkan lebih dalam makna “sepi ing pamrih” ini.

Pertanyaan pertama saya adalah, apakah “sepi ing pamrih’ itu dalam kehidupan nyata memang ada? 
Orang Islam sering mengatakan bahwa apa yang dia lakukan hanyalah untuk Allah, tidak lain dari itu, Lillahitaallah. 
Kalau apa yang dilakukan adalah untuk Allah, tentu di berharap imbalan juga, misalnya mendapat berkah atau berharap mendapat surga nantinya. 
Apakah hal itu bukan pamrih?

Ada juga orang yang mengatakan bahwa apa yang dia lakukan itu karena dia mau melakukan, karena kemauan dia semata, tidak ada yang mendorong atau memaksa dia melakukan. 
Lho, bagaimana kalau yang dia lakukan itu merugikan orang lain, apa akan tetap dia lakukan?

Sebagaimana pernah saya bahas sebelumnya, manusia itu dilengkapi dengan kekuatan yang bernama ‘rasa’ atau ‘empati’ yang merupakan produk dari nurani. 
Orang awam menyebutnya ‘suara hati’. 
Hanya manusia yang memiliki ‘nurani’. 
Makhluk lain tidak memiliki.

Pada dasarnya (secara alamiah) manusia berkomunikasi dengan dunia luar melalui nuraninya. 
Yang saya maksud dengan dunia luar adalah dengan sesama manusia, dengan hewan, tetumbuhan dan dengan alam pada umumnya. 
Dalam berkomunikasi dengan Tuhan, manusia seharusnya juga menggunakan nuraninya.

Setiap kali kita berkomunikasi dengan dunia luar, maka akan timbul perasaan tertentu yang disebut empati. 
Rasa atau empati tadi merupakan respons kita terhadap sinyal-sinyal dari dunia luar. 
Rasa atau empati merupakan energi positif yang sangat kuat dan cerdas. 
Sebagai energi positif, empati pada dasarnya merupakan “rasa kasih sayang”.

Setiap kali “rasa kasih sayang” muncul dalam diri kita maka timbul dorongan dalam diri kita untuk memberi atau melakukan suatu kebaikan bagi pihak lain yang mengirim sinyal kepada kita. 
Pihak lain itu bisa sesama manusia, hewan, tetumbuhan dan sebagainya. 
Begitulah mekanisme alamiah manusia.

Saya ulangi mekanismenya. 
Manusia dilengkapi dengan sistem komunikasi bernama ‘nurani’.  
Nurani menghasilkan energi bernama ‘empati’ atau ‘rasa kasih sayang’ sebagai respons terhadap sinyal yang datang dari dari luar. 
Empati merupakan energi positif yang tidak dapat menggerakkan otot-otot kita untuk berbuat sesuatu.

Tetapi empati dapat berubah menjadi energi yang dikirim ke otak dan disebut “niat” (intention). 
Setelah mendapatkan sinyal berupa “niat’ tadi maka otak mulai bekerja. 
Kerjanya otak itu didasarkan pada data dan informasi yang sudah tersimpan di dalamnya.

Setelah menerima sinyal berupa “niat”, maka otak mulai membandingkan niat dengan data dan informasi yang ada serta melakukan analisis. 
Setelah melakukan analisis, maka otak merumuskan apa yang akan diputuskan. 
Setelah ada keputusan maka otak memerintahkan otot-otot untuk bergerak melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan yang ditentukan oleh “niat”.

Kembali ke masalah “sepi ing pamrih”. 
Jadi “sepi ing pamrih” dapat terjadi kalau kita berbuat sesuatu atas dasar proses atau mekanisme “sinyal luar - nurani – empati – niat – otak”.  
Tentu kita tidak berharap apapun dari apa yang kita perbuat atau kita lakukan karena semua itu berjalan secara alamiah dan otomatis saja. 

Begitulah makna dari “sepi ing pamrih”.  
Sebagai imbalan, secara alamiah dan otomatis kita merasakan sesuatu yang nikmat tetapi tidak dapat kita gambarkan dengan kata-kata. Itulah rasa bahagia.

Tetapi perlu anda ketahui bahwa mekanisme “sinyal luar - nurani – empati – niat –otak” tidak selamaya berfungsi dengan benar.

Dari pengalaman tertentu dalam hidupnya, maka orang tercekam oleh rasa takut dan ketegangan. 
Rasa takut ini melemahkan respons nurani dalam menerima sinyal dari luar. 
Dengan lain perkataan produk nurani berupa “empati” atau “rasa kasih sayang’ juga melemah. 
Kalau rasa takut tadi mencekam lebuh kuat, maka produksi nurani berupa ‘empati’ atau ‘rasa kasih sayang’ akan terhenti.

Dalam hal produksi “empati’ terhenti karena nurani melemah, maka sinyal dari luar akan langsung diterima oleh otak. 
Jadi otak memproses sinyal dari luar tanpa diperintah oleh nurani. 
Hasilnya adalah “pemikiran” dan langsung disalurkan sebagai perinah terhadap otot-otot untuk bertindak.

Tanpa nurani bekerja secara normal, maka perilaku manusia hanya dikendalikan oleh “pikiran”dan “naluri” (instinct). 
Dari dalam dirinya tidak ada “rasa kasih sayang”. 
Yang ada hanya pemikiran yang dikendalikan oleh “naluri bertahan hidup”.

Hewan merupakan makhluk yang hidupnya hanya dikendalikan oleh “naluri bertahan hidup”. 
Hewan tidak diperlengkapi dengan nurani maupun pikiran. 
 Kalau nurani manusia tidak berfungsi maka manusia akan lebih buruk dari hewan karena hidupnya dikendalikan oleh kombinasi “pikiran + naluri bertahan hidup”.

Perang, korupsi, perampokan, pembunuhan, perkosaan dan pelanggaran hak hidup orang lain pada dasarnya adalah karena manusia tidak dikendalikan oleh nurani tetapi oleh kombinasi kekuatan “pikiran dan naluri bertahan hidup”.

Kesimpulannya, “sepi yang pamrih” memberi imbalan berupa kebahagian yang hakiki.

Sudah Paham kan ???

Wednesday, September 27, 2017

Menang Tanpa Ngasorake


Apakah Kamu Tahu Arti Dari Kalimat “menang tanpa ngasorake”.??
Coba Simak Tulisan Dibawah Ini ..

Salah satu ajaran Jawa yang sangat relevan untuk diterapkan dewasa ini berbunyi: “menang tanpa ngasorake”.
Ngasorake artinya merendahkan atau menistakan. 
Kata ngasorake dapat dipadankan dalam kata Inggris ‘humiliating’ atau arti yang lebih ringan adalah ‘embarrassing’ (mempermalukan).

Para diplomat professional tentu akrab dengan praktek mendapatkan sesuatu dari suatu negara tanpa harus membuat negara yang bersangkutan merasa dipermalukan atau direndahkan. 
Banyak lika-liku diplomasi yang harus dilakukan untuk mencapai keadaan ‘menang tanpa ngasorake’ dalam hubungan antar negara bersahabat.

Dewasa ini strategi ‘menang tanpa ngasorake’ sudah tidak dikenal lagi dalam pergaulan politik, pergaulan antar kelompok serta antar pribadi. 
Sering terjadi para pihak saling merendahkan dengan kata-kata kasar atau melakukan fitnah untuk dengan tujuan untuk memenangkan sesuatu.

Masyarakat pada berbagai lapisan kehidupan hanya mengetahui satu cara untuk memenangkan sesuatu, yaitu kekerasan (violence) atau penistaan (humiliation)
Dapat menistakan orang lain menjadi lebih penting dari pada memenangkannya. 
Hal sama saja dengan membunuh sebanyak mungkin musuh lebih penting dari pada memenangkan perang.

Strategi ‘menang tanpa ngasorake’ sangat penting untuk menjaga tetap suburnya perbedaan yang diperlukan dalam kehidupan demokrasi. 
Tanpa perbedaan atau tanpa bersedia menerima perbedaan adalah strategi untuk menuju ke arah kehidupan tirani, diktatorisme, absolutisme dan sejenisnya.

‘Menang tanpa ngasorake’ adalah strategi untuk mencapai hormoni yang dinamis. 
Strategi ini dapat dipertajam dengan menciptakan situasi ‘win-win’ atau kedua belah pihak sama-sama menang. 
Jadi tidak ada pihak yang kalah karena kedua pihak mendapatkan apa yang diperlukan atau diinginkan.

Berbagai masalah dapat diselesaikan kalau para pihak dapat mencapaikan ‘win-win situation’
Konflik pertambangan dengan masyarakat tidak perlu terjadi kalau perusahaan yang ingin mendapatkan mineral bersedia memberikan apa yang diperlukan dan dibutuhkan masyarakat. 
Pemerintah kota harus mencari cara agar keindahan kota tetap terjaga tetapi pedagang kaki lima dapat tetap hidup.

Dalam demokrasi Indonesia, kekuasaan DPR berkembang secara meluas dan intens. 
Anggota DPR yang merasa mendapat hak mengawasi pemerintah seharusnya tidak perlu mencaci maki presiden atau menteri dengan kata-kata dan nada yang mengerikan. 
Fungsi pemerintah adalah mengurus rakyat sedang DPR adalah mewakili rakyat. 
Jadi keduanya punya satu tujuan. 
Seharusnya dapat dicari jalan mengurus rakyat tanpa saling ngasorake.

Yang perlu dipertanyakan adalah mengapa orang lebih senang menempuh jalan ‘ngasorake’ untuk menang? 
Apakah dengan ngasorake kemenangan akan lebih mudah dicapai? 
Di mana letak kenikmatan dan keindahan sebuah kemenangan kalau harus dicapai dengan menciptakan penderitaan pihak lain?

Melu Handarbeni


Kamu Memang Asing Mendengarkan Kalimat 'Melu Handarbeni' ..
Lalu Apasih Artinya ??

Melu handarbeni artinya ikut memiliki.
Melu handarbeni itu wujud dari sikap mental. 
Dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan istilah yang lebih jelas yaitu sense of belonging. 
Jadi lengkapnya dalam bahasa Jawa adalah rasa melu handarbeni..

Rasa melu handarbeni merupakan persyaratan dalam kebersamaan. 
Lingkup melu handarbeni terletak pada kegiatan memelihara, memperbaiki, memajukan dan menjaga, milik bersama. 
Contohnya adalah negara. 
Semua warganegara harus memiliki rasa melu handarbeni, jangan mau enaknya sendiri tetapi tidak mau memelihara, memperbaiki, memajukan dan menjaga.

Dulu Presiden Kennedy dari Amerika Serikat pernah mengatakan: 
“Jangan bertanya apa yang kamu dapat dari negara, tetapi bertanyalah apa yang dapat kamu berikan kepada negara”
Di Jakarta dan kota-kota lain banyak sarana umum, bus, toilet, tilpon umum, kereta api dan dinding tembok rusak dan kotor oleh tangan-tangan jahil yang tidak punya rasa melu handarbeni..

Seorang karyawan perusahaan juga harus punya rasa melu handarbeni. 
Semua karyawan, dari mulai tukang sapu sampai pimpinan paling atas harus memelihara, memperbaiki, memajukan dan menjaga nama baik perusahaan serta asset perusahaan. 
Perusahaan komputer IMB mempunyai semboyan verybody sell, yang artinya semua orang harus menjual.  
Tukang sapu harus menyapu lantai dengan benar agar para pelanggan nyaman. 
Demikian juga para kasir dan petugas pelayanan yang lain.

Belakangan menjadi kebiasaan bagi para demonstran merusak kantor pemerintah dan fasilitas umum, padahal semua itu dibangun dari uang rakyat juga. 
Timbul pertanyaan, mengapa mereka berbuat seperti itu?

Untuk menjawab pertanyaan di atas diperlukan cerita panjang dalam mengelola negara. 
Intinya adalah selama ini para pengelola negara memberi kesan bahwa negara ini milik mereka sendiri. 
Rakyat dianggap hanya sebagai sasaran (objek) untuk diurusi tetapi tidak perlu ikut mengurusi. 
Dengan lain perkataan, partisipsi rakyat dalam pembangunan sangat minim. 
Akibatnya rakyat merasa tidak ikut memiliki negara ini.

Pada tingkat desa juga terjadi hal yang sama. 
Jiwa “gotong royong” sudah makin lemah. 
Yang ada hanyalah kerja bakti, meskipun masih dinamakan gorong royong juga. 
Gotong royong di desa tidak didasari oleh rasa melu handarbeni lagi, tetapi karena terpaksa atau dipaksa oleh RT, RW atau lurah.  
Rumus yang berlaku adalah “asu gedhe menang kerahe” (anjing besarlah yang memenangkan perkelaian) yang artinya siapa yang bersuara keras itulah yang berkuasa.

Rasa melu handarbeni merupakan sikap yang didasari oleh keperdulian terhadap orang lain, oleh rasa tanggung jawab terhadap kepentingan orang banyak. 
Bumi kita ini mengandung kepentingan orang banyak, bukan saja kepentingan sekarang, tetapi juga kepentingan generasi mendatang. 
Oleh kerena itu sumber daya alam dan lingkungan alam tidak boleh dirusak demi kepentingan satu pihak dan kepentingan sekarang saja.

Maka dari itu , dari sekarang mulailah sikap 'Melu Handarbeni' agar semuanya berjalan lancar sesuai mestinya ..

Ojo Dumeh


Kamu Pasti Sering Mendengar Kalimat 'Ojo Dumeh' kan ???
Lalu apa sih Arti dari kalimat tersebut ???

‘Ojo dumeh’ dalam bahasa Indonesia sehari-hari artinya ‘jangan mentang-mentang’.
Ojo dumeh sugih (jangan mentang2 kaya).
Ojo dumeh kuwasa (jangan mentang-2 berkuasa). 
Ojo dumeh pinter dan sebagainya..

Nasihat dalam budaya Jawa memang banyak diutarakan dalam bentuk larangan dari pada anjuran.
Ojo turu sore-sore (jangan tidur sore) yang maksudkan agar orang selalu tirakat di malam hari. 
Ojo laku ngiwo (jangan berjalan ke kiri) maksudnya jangan berlaku atau berbuat yang tidak baik..

Kalau ada nasihat yang diawali dengan kata ‘ojo’ maka kita harus mencari makna afirmatif (anjuran) yang terkandung di dalamnya. 
Demikian juga dengan nasihat ‘ojo dumeh’.

‘Ojo dumeh’ atau jangan mentang-mentang tidak sekedar menganjurkan ‘orang yang lebih’ untuk tidak pamer kelebihannya kepada ‘orang yang kurang’
Orang juga sering mengartikan ‘ojo dumeh’ dengan anjuran untuk berlaku sopan atau hormat kepada yang kurang dari dia agar orang tidak tersinggung..
Arti ‘ojo dumeh’ lebih dari sekedar ajuran berperilaku hormat. 
‘Ojo dumeh' menganjurkan agar orang perduli kepada orang lain. 
Kalau anda mempunyai kelebihan, misanya kekayaan, kekuasaan dan ilmu, maka gunakanlah itu untuk membantu orang yang kekurangan harta (miskin), lemah dan bodoh. 
Bukan sebaliknya anda malahan melecehkan mereka..

Ada juga orang kaya yang berperilaku hormat, rendah hati dan sopan, tetapi pelit dan tidak tergerak hatinya untuk membantu orang lain dengan kekayaaannya. 
Para birokrat di pos pelayanan masyarakat diwajibkan sopan dan ramah kepada rakyat, tetapi kerjanya lambat dan seenaknya. 
Dia tidak perduli dengan orang banyak yang mengantre menunggu pelayanan.

Seorang pejabat pemerintah memberi sambutan di pertemuan ibu-ibu rumah tangga dengan ramah tetapi memakan waktu sampai dua jam. 
Dia tidak perduli apakah ibu-ibu yang hadir mengerti apa yang diucapkan, dia juga tidak perduli bahwa ibu-ibu masih harus pulang masak atau mengurus anaknya. 
Mentang-mentang pejabat tinggi..

Sikap ‘ojo dumeh’ didasarkan pada kenyataan bahwa jalannya kehidupan itu bagaikan roda yang berputar. 
Setiap titik pada roda akan mengalami perubahan posisi, dari bawah ke atas dan dari atas ke bawah. 
Pada waktu kehidupan anda di atas, jangan lupa bahwa pada saatnya nanti akan berputar dan berada di bawah. 
Dengan demikian, nasihat ‘ojo dumeh’ juga memberi nasihat agar orang tidak lupa hari esuk. 
Ojo dumeh kaya lalu boros, tidak menabung untuk hari esuk. 
Ojo dumeh berkuasa lalu tidak ingat hari pensiun yang tanpa kekuasaan..

‘Ojo dumeh’ juga berkaitan dengan nasihat ‘menang tanpa ngasorake’.  
Kalaupun menang, anda tidak berhak melecehkan yang kalah.
ojo dumeh menang, kemudian yang kalah dilecehkan.  
Dengan lain perkataan, nasihat ‘ojo dumeh’ didasari moralitas untuk tetap menghargai orang lain dalam keadaan apapun. 
Dengan lain perkataan kita dianjurkan untuk selalu menghargai hak azasi manusia..

Mungkin Segitu Dulu Penjelasan tentang Definisi dari kata 'Ojo Dumeh' ..
Pasti Anda Mumet kan ??? hehe

Memayu Hayuning Bawana


Taukah Kamu Arti Dari Kata "Memayu Hayuning Bawana" ???

Mari Saya Jelaskan Sedikit ..

Hamemayu atau Memayu itu kata kerja, artinya 'membuat ayu' atau mempercantik, memperindah.
Hayuning itu kata keadaan, artinya keadaan yang ayu, cantik atau indah.
Bawana artinya benua atau bumi.

Jadi arti harafiah dari 'Memayu Hayuning Bawana' adalah 'membuat ayu bumi yang (diciptakan)sudah dalam keadaan ayu'..

Kata 'bumi' dalam hal ini mempunyai arti ganda, yaitu bumi dan isinya secara fisik atau ecosystem serta kehidupan di bumi.

'Memayu hayuning bawana' secara utuh merupakan falsafah, tujuan dan landasan hidup manusia di bumi (ya tentu di bumi, mau di mana lagi.)

Falsafah ini diperkenalkan oleh Pujangga Besar Ronggowarsito.
Sebagai falsafah dan tujuan hidup, Memayu Hayuning Bawana (MHB) menganjurkan agar manusia hidup digunakan untuk terus menerus meningkatkan kuakitas hidup dan kualitas ecosystem bumi dan jagad raya.

MHB terdiri dari tiga bagian, yaitu Memayu Hayuning Pribadi (MHP) dan Memayu Hayuning Bebrayan (MHBr).

MHP adalah suatu proses untuk terus menerus meningkatkan kualitas diri kita sebagai manusia (human quality).
Bebrayan artinya pergaulan, atau interaksi antar menusia. 
Jadi MHBr adalah suatu proses untuk terus menerus meningkatkan interaksi antar manusia. 

MHP dan MHBr pada dasarnya merupakan persyaratan yang diperlukan untuk mencapai tujuan hidup 'Memayu Hayuning Bawana'.

Kalau kedua persyaratan ini dipenuhi, maka kehidupan manusia akan indah atau ayu. 
Bumi sebagai sumber kehidupan akan ayu (tidak rusak) oleh ulah manusia. 
Manusia hidup rukun, tidak ada perang, permusuhan atau saling benci. 

Tentu semua itu idealnya begitu karena harapan itu mencerminkan MHB sebagai falsafah hidup. Landasan dari Memayu Hayuning Pribadi adalah 'eling lan waspada' (lihat tulisan yang lalu) yang nantinya diurai dalam berbagai ajaran lain yang lebih detail. 

MHP dalam pelaksanaan sering kehilangan konteks dan tujuan. 
Misalnya bertapa, tirakat, kanuragan dan berbagai upaya mendapat 'kekuatan dan kesaktian' sering berlawanan dengan makna MHB. 

Upaya meningkatkan interaksi antar manusia atau Memayu Hayuning Bebrayan memerlukan kualitas manusia yang diperoleh dari upaya MHP. 

Tanpa manusia yang berkualitas, maka sinergi antar manusia tidak akan tercapai. 
Sampai di sini dulu agar dengan tulisan ini anda merenung bagaimana keadaan Di Indonesia. 

Bagaimana kualitas manusianya, bagaimana kondisi ecosystemnya, bagaimana interaksi antar anak bangsa, dsb.

Semoga Sedikit Penjelasan Saya Ini Bisa Lebih Memperdalam Ilmu Jawa Anda .. :)